Didik Anak Anda Untuk Menjadi Anak yang Responsif

Suatu siang saya mengajak anak berkunjung ke rumah kawan lama saya. Saat pintu kami ketuk dan mengucap permisi, sama sekali tidak ada jawaban. Lama kami menunggu. Lalu saya mencoba menelepon kawan saya itu, dia menyuruh saya menunggu sebentar. Tidak lama kemudian anaknya, Arla, yang berusia empat tahun berlari-lari keluar. Pasti dia diberi tahu mamanya kalau kami datang. Sebentar kemudian eyangnya keluar dan mempersilakan kami duduk. Lumayan lama kami menunggu kawan saya keluar.

Nah, waktu menunggu itu saya gunakan untuk memberikan wejangan pada anak. Saya bilang padanya, nanti setelah memberikan bingkisan hari raya, harus segera pamit. Saya beri pengertian bahwa Tante Ika sedang sibuk membuat kue, tidak baik kalau terlalu lama mengganggu. Setelah kira-kira seperempat jam, barulah kawan saya keluar. Saya langsung saja memberikan buku yang sudah saya janjikan dan jajanan untuk anaknya. Saya katakan bahwa kami buru-buru akan pergi ke suatu tempat. Obrolan kami cukup sepuluh menitan, terus saya pamit pulang.

Menjadi Anak yang Responsif

Sebenarnya anak saya sudah lama sekali ingin bermain ke rumah kawan saya itu. Saya menunggu saat anak libur sekolah. Pagi-pagi sekali saya sudah mengirimkan sms ke kawan saya, memberi tahu saya akan datang, namun dia tidak menjawab. Sementara hari raya tinggal dua hari lagi. Kemudian saya putuskan langsung ke rumahnya, dan kalaupun dia tidak ada, bisa saya titipkan pada orang yang ada di rumahnya.

Saya tidak kecewa hanya bertemu sebentar, karena saya tahu dia sangat sibuk. Kondisi ini pun saya pergunakan untuk memberi masukan pada anak bahwa kita harus tahu diri dan tanggap akan segala situasi. Kalau melihat ada orang lain yang sangat sibuk, kita tidak boleh mengganggu.

Begitu pula ketika ayahnya sedang sibuk menyelesaikan tugas, saya mengingatkan anak agar tidak mengganggu ayahnya dulu. Bila ayahnya sedang capai dan berwajah tidak sedap karena ada masalah, saya suruh anak agar tidak merengek-rengek atau melakukan sesuatu yang malah akan memicu ayahnya marah.

Di lingkungan bermain pun, saya mengharapkan anak saya selalu tahu diri dan tanggap akan situasi di sekitarnya. Dia saya anjurkan untuk tidak main serobot mainan yang sedang digunakan teman, bahkan sampai merusaknya dengan sengaja.

Pembelajaran pada anak biasanya saya sertakan contoh-contoh yang ada di sekitarnya. Dengan demikian, dia akan lebih mudah memahami keinginan saya dan apa yang harus diperbuatnya. Saya contohkan padanya tentang seorang anak yang tidak mau diajak pulang ibunya ketika berkunjung ke rumah kami, padahal saat itu kami hendak bepergian. Saya tanya pada anak saya apa yang dia rasakan. Ternyata dia jengkel juga karena acaranya terancam batal. Dari kasus ini saya pancing dia untuk merespons jika kondisi dibalik, bagaimana jika dia yang membuat jengkel orang lain.

Pernah juga saya ceritakan pada anak tentang pengalaman saya. Saya punya dua teman yang hampir setiap hari bermain ke rumah pada malam hari tanpa tujuan jelas. Suatu ketika ibu saya sedang sedih karena suatu masalah ketika teman-teman saya itu datang. Waktu itu saya tidak sampai hati untuk menyuruh mereka pulang. Akhirnya saya memberi kode agar mereka segera pamit. Saya tinggal mereka beberapa kali untuk waktu yang agak lama. Tetapi mereka berdua tetap saja tertawa terbahak-bahak. Hati saya gundah tak karuan saat itu. Di satu sisi saya tidak enak pada orang rumah, di sisi lain saya jengkel pada teman-teman. Memang betul mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi, namun setidaknya mereka harus tanggap akan kode-kode yang saya buat. Satu hal yang saya sesalkan saat itu adalah kenapa saya tidak bisa tegas.

Berkaca dari pengalaman di atas, sudah seharusnya sedari dini kita ajari buah hati menjadi orang yang responsif, tanggap akan situasi apa pun di sekitarnya. Dengan begitu, di kemudian hari dia akan menjadi orang yang bijaksana dalam berpikir dan bertindak.